Tokyo Kota yang Bersih

Tokyo adalah kota tujuan kami saat April 2019 lalu kami mendapat kesempatan untuk mengunjungi Jepang selama 5 hari.

Banyak kenangan manis selama 5 hari di Tokyo.

Kali ini saya coba ulas mengenai kebersihan kota Tokyo yang bagi saya orang Indonesia, sangat luar biasa.

Hari pertama kami mendapat kesempatan untuk mengunjungi Tsukiji Market, salah satu pasar ikan tradisional di Tokyo.

Tsukiji_1
Tsukiji, Nippon Fish Port Market

 

Ikan segar dan ikan siap makan tertata rapi di lapak dan dijajakan dengan ramah oleh pedagangnya. Selain ikan ada tersedia juga aneka buah segar. Kami coba beli buah stroberry ukuran jumbo, cumi bakar dan scallop. Kami lanjut keliling sambil makan. Begitu selesai makan, kami siap-siap buang wadah buah dan wadah ikan ke tempat sampah. Namun sekian lama kami jalan, tak menemukan satu pun tempat sampah, padahal ini pasar tradisional loh. Mau buang ke tanah loh kok di tanah gada sampah satupun. Trus piyee jal…

Jadilah kami pegang itu bungkus makanan selama keliling pasar, sampai dekat pintu keluar kami lihat semacam kantong sampah di depan salah satu toko makanan. Kami titiplah itu wadah makanan di kantong itu, entah ini benar atau tidak kami ga tahu. Untung di penjaga toko ga lihat waktu kami titip itu wadah makanan. hehe..

Setelah keluar area pasar dan kembali ke jalan utama, kami perhatikan di sepanjang trotoar jalan juga tidak terdapat tempat sampah. Lah gimana ini…?

Tsukiji
Tsukiji, Nippon Fish Port Market (road)

 

Singkat cerita, tour guide cerita bahwa memang di Jepang, Tokyo terutama memang susah untuk mendapatkan tempat sampah. Masyarakat Tokyo sudah dibudayakan melalui aturan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Jika mereka punya sampah diluar, maka sampah itu harus disimpan dan di buang di tempat sampah rumah/apartemen masing-masing. Begitu juga untuk tamu hotel, sampah dikasihkan ke receptionist atau di taruh di tempat sampah di kamar masing-masing. Sampah di kasih ke receptionist? ini terasa aneh buat kami yang terbiasa di Indonesia.

Pemerintah Jepang sendiri memiliki kemampuan yang baik dalam mengelola sampah, baik sampah rumah tangga maupun sampah industri. Masyarakat diberikan arahan mengenai bagaimana mereka seharusnya menangani sampah baik di rumah maupun di lingkungan disekitarnya. Salah satu cara pengelolaan sampah yang diterapkan misalnya dilakukannya pemisahan jenis-jenis sampah yang dimulai dari rumah.

Di kota Tokyo sendiri sampah dipisahkan dalam empat kelompok, yaitu 1) Combustible Waste (sampah yang dapat dibakar), 2) Non-Combustible Waste (sampah yang tak dapat dibakar) seperti plastic, steoroform, sampah kaca atau beling, dan lain-lain, 3) Recyclable Items (sampah yang dapat didaur ulang) seperti Koran dan majalah, botol-botol plastik, kotak kardus, dan lain-lain, dan 4) Large-size Waste (sampah berukuran besar) yaitu sampah yang beukuran lebih dari 30 cm, seperti meja, kursi, lemari, dan lain-lainnya. Untuk sampah elektronik seperti televisi, kulkas, mesin cuci, komputer dan lain-lain harus dikembalikan ke toko dimana barang tersebut dibeli.

Selain adanya pemisahan, masyarakat juga tidak bisa membuang sampah pada sembarang waktu. Setiap jenis sampah hanya boleh dibuang pada waktu yang telah ditentukan. Orang disini menyebutnya hari membuang sampah, dimana tiap jenis sampah akan dikumpulkan oleh petugas kebersihan kota pada hari yang berbeda. Untuk sampah yang dapat dibakar, petugas kebersihan kota akan mengambilnya dua kali setiap minggunya, dengan hari yang berbeda untuk setiap kecamatan dan keluarahan. Sampah yang tidak dapat dibakar dan sampah yang dapat didaur ulang diangkut seminggu sekali. Sementara untuk sampah berukuran besar, seorang yang akan membuang sampah harus memesan terlebih dulu ke dinas kebersihan dan biasanya akan dikenakan biaya transport dan biaya pembuangan.

Yups.. begitulah sekilas mengenai persampahan di Jepang dan Tokyo pada khususnya.

Bisa ga ya, Jakarta dikit demi sedikit niru Tokyo? Yuks mulai dari kita sendiri, mulai dari yang terkecil, misal taruh bungkus permen di saku kalau belum menemukan tempat sampah.

 

Mrs Macquaries’s Point, Sydney, NSW.
Mrs Macquaries’s Point Sydney

Mrs Macquaries’s Point, Sydney, NSW.

Tempat yang berada di semenanjung timur laut Farm Cove. Merupakan bagian dari Royal Botanic Garden. Nama Mrs Macquaries’s Point diambil dari nama istri Gubernur Lachlan Macquarie.

Pada ujung semenanjung, terdapat  bangku di ruang terbuka yang terbuat dari batu. Dinamakan Mrs Macquarie’s Chair (tempat saya duduk). Pada batu tersebut terukir penjelasan tentang Mrs Macquaries’s Road. Yang dibangun antara tahun 1813 dan 1818 dari Goverment House ke Mrs Macquarie’s Point.

Gubernur Macqurie membangun jalan dan bangku batu untuk istrinya. Yang suka memandangi kapal-kapal yang datang dari Inggris Raya. Tempat ini menjadi tempat terbaik untuk mendapatkan pemandangan kota Sydney. Terutama Opera House dan Sydney Harbour Bridge.

About Us
IG: beauty_health_natural

Ujung Genteng, Couple Touring
Couple Motor Touring

Ujung Genteng, Couple Touring

Prosesi pelepasan Tukik ke laut
Pantai Pangumbahan, UG
Jalan alternatif ke Curug Cikaso
Si Tukik dengar suara pantai
Derasnya air Curug Cikaso

Ujung Genteng, jarak tempuhnya kira-kira 7-8 jam dalam keadaan normal (macet sedikit).

Waaahhh.. lama bener yaa mau liat pantai aja.. Jangan salah, pemandangannya sepanjang jalan asli keren bangets.. nggak bakalan bosen liatnya.. meskipun sedikit deg degan juga karena setelah melewati cibadak hingga kiara dua, jalanannya berkelok-kelok dengan jurang di kanan atau kiri jalan. Belum lagi jalannya sempit, cukup buat dua mobil tapi pas-pasan.. jaga kecepatan kendaraan jangan sampai di atas 50 km per jam.. Selain takut kecelakaan, terutama takutlah pada mabuk kendaraan.. wkwkwk.. serius…

Namun, jangan khawatir, jalanan menuju Ujung Genteng relatif mulus kok meski memang kadang ada lubang di beberapa titik.

 

Kunjungi IG kami

 

error: Content is protected !!
× Whatsapp